Tajam kerikil menikam ternang dalam gelap
Peluh mengalir tak tentu menelan pahit derasnya rasa
Mencari tempat mengubur asa mekarkan redup di ujung dewasa
Hari ini seperti kemarin
Gelombang tak alpa menghantam pantai
Melumpuhkan kaki yang melangkah dalam andai
Menyisakan hati dan pikiran yang siap dibakar dalam badai
Bersyukur atasmu Tuhan
Untuk manis yang Kau selipkan pada butir-butir ombak yang
membantai
Jakarta, 20 12 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tuliskan komentar anda
berikan komentar dengan bijak dan sopan